Sistem Penala/Tuning Pada Radio Penerima

Sejarah radio katanya sih ada beberapa jenis radio jika dilihat dari cara pengambilan/penalaan/pemilihan frekuensi.

  1. Simple Tuned Circuit
  2. Tuned Radio Frequency
  3. Regenerative
  4. Super Regenerative
  5. Freemodyne
  6. Superheterodyne

1. Simple Tuned Circuit

Crystal Radio
Crystal Radio

Ni sering dalam bahasa kita disebut radio kristal, yaitu radio sederhana yang terdiri dari tuned circuit yang berosilasi ketika setara dengan sinyal radio yang kemudian dipisahkan carier dan audionya pake dioda germanium kristal spt seri OA, BY, BAT dsb

Dioda Germanium
Dioda Germanium

Radio seperti ini biasanya terdiri dari rangkaian pasif doang, jadi suara yg didapet tergantung dari besarnya sinyal yang didapet, terus selektifitasnya juga rendah banget, jadi klo pemancarnya rapet2 bakal numpuk2 tuh suaranya. Rangkaian ini juga gampang kena interference alias spleteran dari freq diatas dan bawahnya. 

Crystal Radio Circuit
Crystal Radio Circuit

2. Tuned Radio Frequency (TRF)
Radio kristal hanya bisa nangkep sinyal yang kuat doang, jadi teknologi ini mencoba menguatkan frekuensi yang ditala dengan beberapa level penguatan, yang masing2 level ini harus diset agar hanya menguatkan frekuensi yang diinginkan doang, sehingga diharapkan sinyal atas bawahnya jadi lebih kecil. Biasanya butuh banyak transistor ato tabung tuk ngerjain tugas ini, nyetingnya juga susah banget. IC ZN414 dan kawan2nya merupakan IC jenis TRF yang menyatukan banyak level penguatan hanya dalem satu IC, ditambah dah di-demodulasi sinyalnya.

ZN414 Single Chip AM Radio
ZN414 Single Chip AM Radio
ZN414 Basic Circuit
ZN414 Basic Circuit

3. Regenerative
Ngeliat ribetnya penguatan disistem TRF maka dikembangkan sistem regenerative yaitu . Dengan penambahan satu stage penguat yang dirangkai sebagai feedback loop (biasanya positif feedback) yang bikin sinyal yang ditune dikuatkan berkali2, konon penguatannya bisa sampe 15.000x loh. Sensitifitas dah meningkat secara signifikan jika dibanding TRF dan hanya dengan menggunakan sedikit komponen yang tidak perlu ditala.

Regenerative Circuit
Regenerative Circuit

4. Super Regenerative
Prinsip kerjanya sama dengen regenerative hanya ditambah satu stage penguat lagi yang diinjeksikan ke sinyal, sehinggal sinyalnya berlipat ganda. Injeksi sinyal yang biasanya sekitar 20Khz-100KHz dilakukan supaya penguatan bisa lebih tinggi hingga sampe 1juta kali hanya dengan penambahan satu stage doang. Jenis ini sangat jago tingkat sensitifitasnya karena adanya penguatan yang begitu besar dan bisa dicapai hanya dengan komponen berjumlah sedikit. Hanya masalah selektifitas masih belum terpecahkan.

Super Regenerative
Super Regenerative

5. Freemodyne
Ada yang iseng lagi bikin super-regen tapi satu stage injeksinya ditune dengan osilator yang turun naek frekuensinya ngikutin frekuensi tune utama. Outputnya ialah sinyal yang frekuensinya tetap (biasanya dipake 21.75MHz), baru outputnya di-demodulasi. Katanya sih ini merupakan prototype awal dari sistem super heterodyne. Sistem ini juga meningkatkan selektifitas dengan membuat tuned osilator yang diinjeksikan ke tuned frequency.

Freemodyne
Freemodyne

 

 

6. Superheterodyne
Atau kadang disebut juga heterodyne doang, ni teknik penalaan yang menjadi standarisasi perangkat RF sampe jaman sekarang ini. Heterodyne merupakan teknik merubah frekuensi (yang biasanya tinggi) menjadi frekuensi rendah sehingga lebih mudah diproses. Biasanya digunakan sebuah tuned osilator (disebut LO = Local Oscilator) yang sinyalnya di-mix dengan frekuensi yang ditala hingga menjadi sebuah frekuensi antara yang besarannya tetap, ini yang kita sebut IF alias intermediate frequency. 

Superheterodyne
Superheterodyne

IF ini secara teori pasti ada dua, yaitu penjumlahan dan pengurangan dari 2 frekuensi. Yang biasanya dipake ialah frekuensi rendahnya doang, yang frekuensi tingginya dibuang dengan LPF (Low Pass Filter). Pada FM biasanya yang dipake 10,7Mhz klo AM 455Khz. Pada super heterodyne input sama sekali gak ditala, biasanya hanya ada filter doang (bandpass filter), yang ditala cuma osilator (LO) doang. Misal di FM kita mo tune 99,3Mhz, maka osilator ditala ke 101Mhz sehingga hasil mix-nya tetep 10,7Mhz. Frekuensi rendah kaya gini apalagi fix kan jadi gampang banget tuk dikuatkan dan difilter sehingga sinyal yang dihasilkan jadi lebih sensitif dan selektif.

Superheterodyne Block Diagram
Superheterodyne Block Diagram

Ini cuma macem2 cara penalaan doang yang pengaruhnya ke sensitifitas ama selektifitas penerimaan. Tuk yang pake osilator tar ada macem2 jenis osilator yang dipake, seperti LC, RC , Crystal, dengan tuner di L, C ato pake PLL Klo dah ditala n didapet IFnya tinggal diproses aja tuh, dipisahin data ama cariernya. Datanya bisa berupa analog bisa digital. Analog bisa berupa vokal, CW, RTTY, data dsb, klo digital ya berupa data yang tar diterjemahkan lagi, misalnya kaya WiFi ato bluetooth. Hehehe ribet banget ya teorinya mo bikin radio doang, mending beli radio jadi aja gak sampe gope gak perlu mikir ampe mumet gini

sumber:
http://cool386.tripod.com/
http://www.somerset.net/arm/fm_only_intro.html

dari: http://www.kaskus.co.id/show_post/000000000000000655878490/1812

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *